Duel SC Internacional vs Corinthians mempertemukan dua tim yang sama-sama sedang kesulitan (LWLLD dan LLLLL menurut data klasemen), tetapi catatan pertandingan menunjukkan mereka kalah dengan cara yang berlawanan. Corinthians melepaskan lebih banyak tembakan daripada setiap tim tamu yang mereka hadapi di kandang dalam periode ini, tetapi tetap kalah di ketiga laga tersebut. SC Internacional memenangi satu-satunya laga tandang terbarunya hanya dengan 4 tembakan. Setelah sama-sama sekitar 17 hari tanpa bermain di liga, menarik untuk melihat kebiasaan mana yang bertahan setelah jeda.
Semua angka ini berasal dari catatan pertandingan kami. Saat bermain di kandang, Corinthians mencatat 16 tembakan berbanding 7 dan xG 2,12 berbanding 0,95 saat melawan Chapecoense, tetapi kalah 1-2 setelah mencetak gol pada menit ke-2 dan kebobolan pada menit ke-40 serta 77. Melawan Santos, mereka unggul 18-8 dalam jumlah tembakan, tetapi hanya 2 yang tepat sasaran, lalu kalah 0-1 akibat gol pada menit ke-33. Saat menghadapi Fluminense, mereka mencatat 20 tembakan berbanding 10 dan xG 2,44 berbanding 2,38, tetapi kalah 1-3 setelah kebobolan pada menit ke-24, 76, dan 93. Jadi, bukan berarti mereka tak pernah menciptakan peluang. Masalahnya, pertandingan cenderung berubah setelah menit ke-75, dan itu terjadi dalam 2 dari 3 laga tersebut.
Dalam beberapa hal, SC Internacional justru kebalikannya. Mereka menang 2-1 di kandang Chapecoense dengan hanya 4 tembakan berbanding 13 dan xG 0,34 berbanding 0,70; gol tercipta pada menit ke-25 dan 67. Laga kandang melawan Santos berjalan sebaliknya: tertinggal 0-3 saat turun minum, setelah mendapat kartu merah pada menit ke-28, lalu skor akhir menjadi 2-3 dengan xG yang hampir imbang (1,29 berbanding 1,36). Melawan Atletico-MG, mereka melepaskan 23 tembakan, 11 di antaranya diblok dan 3 tepat sasaran, tetapi laga berakhir 0-0. Rochet juga absen karena masalah punggung bawah, jadi saya akan berhati-hati sebelum menarik kesimpulan terlalu jauh dari catatan pertahanan lama mereka.
Yang menarik adalah rekor pertemuan kedua tim. Di ajang piala awal musim ini, SC Internacional menang 2-0 di kandang lalu kalah 1-2 saat tandang. Di liga, Corinthians juga kalah 0-1 pada April. Hasil-hasil itu tak banyak memberi gambaran tentang kondisi terkini kedua tim, tetapi menunjukkan bahwa selisih satu gol adalah margin yang lazim dalam duel ini.
Menurut saya, yang menentukan adalah siapa yang mencetak gol lebih dulu dan bagaimana mereka mengelola fase akhir pertandingan, bukan siapa yang sedang “dalam performa terbaik”. Kalau ada yang rutin mengikuti kedua tim ini, saya ingin tahu apakah kebobolan pada menit-menit akhir oleh Corinthians lebih disebabkan kondisi fisik atau pilihan pemain cadangan.