Laga ini lebih menyoal momentum dan situasi kedua tim, bukan sekadar adu materi pemain. Estudiantes datang dengan rentetan tiga kekalahan beruntun di liga, Piala Super, dan Copa Argentina. Sang pelatih bahkan sudah mengisyaratkan rotasi pemain demi mengistirahatkan pilar yang kelelahan. Di sisi lain, Gimnasia Mendoza datang dengan kondisi bugar dan kini bertengger di peringkat kelima grup. Penilaian saya bertumpu pada fakta bahwa odds yang hanya memperhitungkan kualitas skuad bisa jadi belum mencerminkan betapa terkurasnya kondisi tim seperti Estudiantes saat ini.
Estudiantes telah melakoni tiga pertandingan hanya dalam rentang sekitar sepuluh hari. Mereka tumbang 1-3 dari Rosario Central di Piala Super, tersingkir 0-1 di markas Platense pada ajang piala, dan sebelumnya juga takluk 1-2 di kandang Lanus. Joaquin Correa dan Tiago Palacios sudah lama menepi karena cedera, dan media lokal menyebut Alexander Medina bakal merombak susunan pemain dengan memadukan pemain reguler dan pelapis. Terlebih lagi, partai semifinal Copa Libertadores kontra Flamengo sudah menunggu di depan mata sebagai fokus utama mereka berikutnya.
Sebaliknya, Gimnasia Mendoza tidak bertanding selama 16 hari, sehingga sama sekali tidak ada masalah kebugaran. Mereka mengoleksi 17 poin dari sepuluh laga, dengan sang striker Agustin Modica tampil tajam lewat torehan 8 gol dalam 9 laga Clausura. Meski tanpa kemenangan di tiga partai terakhir dan harus kehilangan Ignacio Sabatini yang terkena skorsing serta beberapa pemain cedera, duel ini jelas bukan panggung yang berat sebelah.
Estudiantes sendiri sebetulnya masih terbilang tangguh di laga kandang liga: tiga menang, sekali imbang, dan satu kali kalah, mencetak 9 gol serta hanya 3 kali kebobolan dalam lima partai. Karena itulah saya memprediksi laga ini akan berjalan sengit dan berimbang, alih-alih menganggap tim tamu bakal unggul mutlak. Satu catatan statistik menarik lagi: saat diunggulkan di pasaran odds dalam 20 pertandingan terakhirnya, Estudiantes justru gagal menang di 13 laga di antaranya.