Lech dan Sunderland sama-sama bisa masuk ke area berbahaya, tetapi serangan paling jelas dari masing-masing tim muncul lewat fase yang berbeda. Sisi kanan Lech mampu mengalirkan bola ke kotak penalti, sementara tekanan Sunderland dan pergantian pemain di babak kedua bisa mengubah tempo. Laga Sturm kontra Marseille juga memperlihatkan persaingan serupa antara opsi serangan tuan rumah dan tekanan dari sisi sayap tim tamu. Dalam kedua laga, bola kedua bisa sama pentingnya dengan serangan pertama.
Pereira dan Wålemark bisa bekerja sama dengan Rodríguez dan Ishak sebelum Sunderland sempat kembali ke posisinya. Murawski kembali mendapat menit bermain yang berarti saat menghadapi Korona, sedangkan Yegbe sudah mengisi tempat Mońka yang cedera. Sunderland masih punya Xhaka dan Le Fée sebagai pemasok bola, tetapi absennya para penyerang saat ini membuat penyelesaian akhir mereka belum terbukti. Lech bisa terus menciptakan peluang lewat rangkaian serangan di sisi kanan itu saat pertandingan mulai terbuka. Karena itu, kami memilih Lech untuk tetap bersaing.
Seidl, Diakité, dan Weinhandl telah menyediakan jalur serangan yang berjalan baik hingga ke kotak penalti meski beberapa pemain di lini depan masih absen. Marseille bisa membalas lewat Weah dan Paixão di sisi sayap serta umpan silang berulang, terutama saat Sturm kehilangan bola berikutnya. Helać sudah menggantikan Khudyakov yang cedera dalam laga derby, sementara menit bermain Højbjerg memengaruhi kendali Marseille di lini tengah. Jalan keluar Sturm saat bermain di kandang dan kemampuan mereka memenangi bola kedua memberi cara untuk meredam tekanan tim tamu di kedua babak. Karena itu, kami memilih Sturm untuk tetap bersaing.