Ada dua laga yang profil tim tamunya lebih menentukan daripada posisi di klasemen. Jeonbuk bertandang ke Anyang sebagai tim yang mampu mengendalikan permainan tandang, tetapi jarang mencetak banyak gol. Tiga hari kemudian mereka harus bertandang ke Beijing. Shimizu bertamu ke Hiroshima untuk menghadapi tuan rumah yang hampir tak kebobolan sepanjang musim gugur, sementara mereka kehilangan pemain yang menjadi andalan dalam serangan balik.
Dalam 16 laga tandang musim ini bersama pelatih yang sama, Jeonbuk meraih 4 kemenangan, 8 hasil imbang, dan mencetak 16 gol. Mereka menguasai bola, tetapi sering gagal mengubahnya menjadi kemenangan. Saat menghadapi Daejeon, mereka unggul saat turun minum, lalu kebobolan gol di babak kedua dan kalah. Pelatih mereka mengatakan perlu mengatur kondisi pemain setelah perjalanan di kompetisi kontinental, sementara laga melawan Beijing sudah menanti.
Sepanjang musim Anyang kerap kebobolan di kandang, tetapi setelah menjalani pemusatan latihan yang berfokus pada pertahanan, mereka mencatat dua clean sheet. Tren itu masih singkat, jadi kami tidak terlalu menjadikannya patokan. Ancaman Jeonbuk tetap nyata: Tiago sudah kembali, dan bola mati Lee Young-jae bisa menyulitkan duet bek tengah muda Anyang. Meski begitu, laga kemungkinan akan berjalan ketat dan imbang untuk waktu yang lama. Jeonbuk sering kehilangan poin di menit-menit akhir, jadi kami memilih Anyang tidak kalah.
Di kandang, Sanfrecce menguasai bola dan nyaris tak memberi lawan peluang: hanya kebobolan 6 gol dalam 9 laga kandang, dan cuma 1 dalam 4 laga terakhir. Haller absen karena skorsing, jadi mereka akan mengandalkan kombinasi permainan dan pergerakan para pemain, bukan target man. Cara itu cocok dengan Suzuki, Kato, dan Ayukawa yang sedang produktif mencetak gol.
Shimizu kehilangan Matsuzaki karena skorsing. Ia adalah pemain sayap utama mereka dan baru-baru ini juga mencetak gol, sehingga opsi serangan balik mereka berkurang. Untuk mengancam lewat bola mati, mereka butuh tendangan sudut, sementara Sanfrecce jarang memberikannya. Shimizu kesulitan pada menit-menit akhir saat menghadapi tim dengan penguasaan bola yang kuat: mereka kebobolan dua gol telat saat melawan Gamba, lalu menghadapi 25 tembakan dan kebobolan empat gol di babak kedua melawan Machida. Begitu Sanfrecce mencetak gol lebih dulu, Shimizu harus bermain lebih terbuka dan para pemain pengganti Sanfrecce akan mendapat ruang. Kami menjagokan Sanfrecce menang dengan meyakinkan; jika menang dengan selisih satu gol, taruhan dikembalikan.