[Ligue 1 Prancis 26-27] Pratinjau Analisis Stade Brestois 29 vs OGC Nice Kick-off: 24 Oktober, 01.45 WIB
Stade Brestois 29 dan OGC Nice akan saling berhadapan pada laga pembuka pekan ke-8 Ligue 1 Prancis di Stade Francis-Le Blé, Brest, pada 24 Oktober pukul 01.45 WIB. Meski selisih poin kedua tim hanya satu angka, misi yang diemban berbeda. Stade Brestois 29 bertekad mendongkrak posisi di klasemen lewat laga kandang setelah menang telak atas Angers, sementara OGC Nice harus memutus tren buruk tiga kekalahan tandang musim ini.
1. Gambaran Pertandingan dan Kondisi Kedua Tim
Hingga pekan ke-7, Stade Brestois 29 mencatat 2 kemenangan, 3 hasil imbang, dan 2 kekalahan dengan torehan 9 poin di posisi ke-10. OGC Nice berada di peringkat ke-13 lewat 2 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 3 kekalahan dengan 8 poin. Stade Brestois 29 hanya terpaut 2 poin dari Lorient di peringkat ke-7, sedangkan OGC Nice unggul 2 poin atas Le Mans di peringkat ke-16 yang merupakan zona playoff degradasi. Kedua tim tidak melakoni pertandingan tengah pekan maupun kompetisi antarklub Eropa. Tidak ada pula keharusan untuk mengistirahatkan pilar utama demi laga berikutnya.
Ligue 1 Musim Ini Gol/Kebobolan 7 Laga: Stade Brestois 29 13·10 / OGC Nice 6·9 Rekor Kandang: Stade Brestois 29 1 menang, 1 imbang, 1 kalah / OGC Nice 2 menang, 2 imbang Rekor Tandang: Stade Brestois 29 1 menang, 2 imbang, 1 kalah / OGC Nice 3 kalah
Torehan 13 gol milik Stade Brestois 29 merupakan catatan terbaik kelima di liga. Namun, dari 7 gol kandang mereka, 5 gol lahir dalam satu laga kontra Angers. Pada pertandingan tersebut, Stade Brestois 29 memperlebar keunggulan lewat 2 gol sepak pojok dan 1 tendangan penalti, selain juga merebut bola di area pertahanan tinggi lawan untuk mencetak gol. Pada laga tandang terakhir melawan Lille, mereka sempat unggul lewat sepak pojok di menit ke-6, tetapi laga berakhir imbang 1-1 dengan penguasaan bola hanya 33% serta 2 tembakan tepat sasaran. Jalur gol mereka memang jelas, tetapi sulit menilai mereka akan terus mendominasi lawan di kandang hanya berbekal hasil kontra Angers. Lini belakang yang selalu kebobolan gol dalam 7 pertandingan musim ini juga patut dicermati.
Masalah utama OGC Nice terletak pada produktivitas gol, khususnya di laga tandang. Dalam 3 laga tandang, mereka belum mendulang poin dan baru mengemas 1 gol. Saat melawat ke markas Paris FC, penguasaan bola 56% gagal berbuah banyak peluang berbahaya hingga takluk 0-3. Di kandang Auxerre, penguasaan bola mencapai 68%, tetapi jumlah tembakan berimbang 11-11 dan tembakan tepat sasaran mereka justru kalah dari tuan rumah. Sebaliknya, saat menundukkan Lille dan Strasbourg masing-masing dengan skor 2-1 di kandang, Nice lebih banyak membiarkan lawan menguasai bola, lalu mencetak gol melalui operan cepat begitu merebut bola serta serangan dari sisi kanan. Inilah alasan mengapa penguasaan bola yang dominan tidak otomatis menguntungkan OGC Nice.
Kekalahan tandang 1-2 dari Lyon pada laga terakhir menyuguhkan dinamika berbeda. OGC Nice unggul lebih dulu lewat gol Elye Wahi pada menit ke-18, lalu menaikkan garis pressing di babak kedua untuk merebut bola di area lawan. Jumlah tembakan akhir juga unggul 12-8. Namun, sebagian dari gelombang serangan babak kedua tersebut terjadi setelah pemain Lyon dikartu merah pada menit ke-70. Laga itu belum bisa dijadikan patokan bahwa pertahanan tandang dan pressing OGC Nice sudah solid dalam situasi 11 lawan 11. Kendati torehan expected goals (xG) mereka pada 3 laga terakhir berada di angka 1,30 hingga 1,55 per laga, dua di antaranya adalah laga kandang saat lawan memegang penguasaan bola lebih banyak.
Kedua pelatih mulai menukangi tim sejak Juni. Julien Lachuer mempertahankan formasi 4-2-3-1 di Stade Brestois 29 dengan menempatkan Ludovic Ajorque sebagai sasaran umpan panjang sekaligus pemantul serangan. Sementara itu, Olivier Pantaloni di OGC Nice lebih sering mengusung 3-4-2-1, mengalirkan serangan dari sisi kanan yang dihuni Jonathan Clauss dan Gauthier Hein. Pantaloni menyatakan ingin timnya merebut bola di area yang lebih tinggi seperti babak kedua kontra Lyon. Kunci laga ini adalah apakah rencana tersebut efektif meredam skema bola panjang yang mengarah ke Ajorque.
Stade Brestois 29 terpaksa memainkan gelandang Lucas Tousart di pos bek tengah menyusul cederanya kapten Brendan Chardonnet dan Raphaël Le Guen. Di lini serang sayap kiri, Mama Baldé ditarik keluar usai babak pertama kontra Lille; meski telah kembali berlatih, kepastian tampilnya belum terkonfirmasi. Giovani Versini juga sempat kembali berlatih sebelum menepi lagi. Jika keduanya absen, Joseph Nduqu berpeluang mengisi sisi kiri. Di kubu OGC Nice, Antoine Mendy, Laurent Abergel, Moïse Bombito, dan Ali Abdi absen karena cedera. Dari daftar tersebut, Mendy dan Abdi yang memiliki menit bermain musim ini, sehingga dampaknya lebih terasa pada opsi pergantian pemain bertahan selama pertandingan dibanding susunan sebelas pertama.
Musim lalu, dua pertemuan kedua tim berakhir dengan kemenangan kandang 4-1 untuk Stade Brestois 29 dan hasil imbang 2-2 di markas OGC Nice. Pada kedua laga itu, OGC Nice mencatat penguasaan bola lebih lama, tetapi proses gol Stade Brestois 29 berlangsung berbeda. Di laga kandang, Ajorque membelakangi gawang lalu mengalirkan bola untuk dituntaskan lini kedua, sedangkan di laga tandang gol tercipta lewat penalti hasil tembakan Ajorque serta kiriman bola Kenny Lala. Formasi bek tengah OGC Nice dan juru taktik kedua tim saat ini sudah berbeda dari musim lalu. Pada pertemuan kali ini, proses gol di laga kandang lalu—saat Ajorque menahan bola lalu membaginya ke lini kedua—menjadi referensi yang lebih relevan dibanding skor akhir pertemuan terdahulu.
Menjelang kick-off di Brest, prakiraan cuaca menunjukkan suhu 11 derajat Celsius dengan hembusan angin barat-barat laut berkecepatan 32 hingga 35 km/jam (My-Meteo, 23 Oktober). Angin berpotensi memengaruhi akurasi umpan jauh, umpan silang, dan sepak pojok. Kondisi ini harus dihadapi baik oleh Stade Brestois 29 yang mengandalkan duel udara maupun OGC Nice yang bertumpu pada suplai dari sisi sayap serta pergantian arah permainan. Kedua klub juga akan memberikan penghormatan kepada mantan pelatih kedua tim, Eric Roy, dengan kedua kapten mengenakan ban kapten bergambar wajahnya (SO FOOT, 22 Oktober).
2. Analisis Pertandingan
Area tempat OGC Nice merebut bola kemungkinan besar akan menentukan jalannya pertandingan. Jika pressing tinggi racikan Pantaloni berjalan lancar, OGC Nice bisa langsung mengalirkan bola ke Wahi dan Mohamed El Amine Amoura tanpa perlu berlama-lama menguasai bola. Umpan terobosan cepat saat melawan Lille serta gol pembuka kontra Lyon adalah contoh serangan semacam ini. Jika mereka sanggup membatasi waktu Tousart dan Gautier Lloris untuk membangun operan dari lini belakang Stade Brestois 29, OGC Nice bakal menyerang dalam situasi yang berbeda dibanding tiga laga tandang sebelumnya.
Stade Brestois 29 memiliki sarana untuk melepaskan diri dari pressing lawan. Begitu Ajorque mengamankan bola lambung dan menyodorkannya ke lini kedua, Kamory Doumbia dan Pathé Mboup dapat bergerak maju. OGC Nice bisa mengutus tiga bek untuk mengawal Ajorque, tetapi mereka harus memenangi bola kedua demi mempertahankan efektivitas pressing. Jika Doumbia menerima bola saat gelandang tengah Nice terlanjur naik mendekati Ajorque, lini pertahanan Nice terpaksa mundur kembali. Kemenangan 4-1 Stade Brestois 29 musim lalu juga lahir dari kemampuan Ajorque menahan bola dengan membelakangi gawang lalu menyodorkannya ke lini kedua. Kendati komposisi bek lawan kini berbeda, urutan fase serangan yang harus dihadapi OGC Nice kali ini terbilang serupa.
Apabila pressing tidak berjalan mulus dan OGC Nice lebih sering memulai serangan dari wilayah sendiri, tekanan justru berbalik ke kubu tim tamu. OGC Nice banyak memegang bola di markas Paris FC dan Auxerre, tetapi minim menghasilkan peluang bersih. Bahkan ada momen kebobolan akibat kehilangan bola saat mengalirkan permainan di lini belakang. Stade Brestois 29 mencetak gol kontra Angers lewat keberhasilan merebut bola di area tinggi, serta memanfaatkan kelengahan koordinasi lini belakang Auxerre pada laga tandang. Mengandalkan penguasaan bola semata tidak akan cukup bagi OGC Nice untuk menekan agresivitas Stade Brestois 29.
Situasi bola mati menjadi senjata utama Stade Brestois 29. Eksekusi Chotard dan Magnetti, ditambah lemparan ke dalam jauh Kenny Lala, memaksa lawan berduel di depan gawang menghadapi Ajorque dan Tousart. Dua gol melawan Angers dan gol pembuka di markas Lille bermula dari sepak pojok. Kendati demikian, tidak ada jaminan kelengahan pertahanan Angers yang dua kali membiarkan pemain lawan bebas di muka gawang akan terulang di laga kontra OGC Nice. Yang terpenting, sekalipun bek OGC Nice memenangi duel udara pertama, mereka harus sigap menyapu bola kedua sebelum disambar Doumbia atau Mboup.
Di sektor seberang, pergerakan Wahi akan menguji Tousart. Tousart mengisi pos bek tengah dalam dua laga terakhir, tetapi ia belum teruji mengawal penyerang yang mengandalkan kecepatan menusuk di belakang garis pertahanan seperti Wahi. Saat OGC Nice merebut bola dan langsung melepaskan umpan, Tousart harus berbalik badan mengejar Wahi. Pantaloni menyebutkan bahwa Wahi tidak perlu terpaku persis di garis offside saat melakukan sprint; bergerak dari posisi 1 meter di belakang pun ia tetap bisa mendahului bek untuk menjangkau bola (Nice-Matin, 22 Oktober). Artinya, waktu pelepasan umpan harus presisi agar keunggulan akselerasi tersebut terkonversi menjadi peluang. Jika OGC Nice terlalu lama memutar bola sebelum mengoper, barisan pertahanan Stade Brestois 29 memiliki waktu untuk merapatkan posisi.
Di sisi kanan OGC Nice, Clauss dan Hein akan berhadapan langsung dengan bek kiri Stade Brestois 29, Bradley Locko. Gol bunuh diri penyeimbang kontra Strasbourg lahir dari umpan silang Hein dari sisi kanan, disusul gol penentu kemenangan oleh Clauss. Gol pembuka Wahi ke gawang Lyon juga berawal dari umpan silang Clauss. Jika Stade Brestois 29 menurunkan Baldé, sang pemain dapat mengeksploitasi ruang kosong yang ditinggalkan Clauss saat naik membantu serangan. Namun, bila Baldé absen, belum ada kepastian apakah pemain penggantinya mampu menghadirkan kecepatan serupa dalam skema serangan balik. Pilihan starter di pos sayap kiri ini juga akan memengaruhi beban defensif yang dipikul Locko.
Setelah gol pertama tercipta, kelebihan dan kelemahan kedua tim akan terlihat dalam bentuk yang berbeda. Jika Stade Brestois 29 memimpin lebih dulu, OGC Nice dituntut tampil lebih menyerang. Apabila OGC Nice terlalu lama memegang bola dan membuat kesalahan di lini belakang, Stade Brestois 29 berpeluang menggandakan keunggulan. Namun, Stade Brestois 29 gagal mengamankan kemenangan pada laga tandang kontra Auxerre dan Lille meski sempat memimpin di babak pertama. Di markas Auxerre, mereka kebobolan satu menit selepas turun minum setelah lawan melakukan pergantian pemain, sementara di kandang Lille mereka memilih bertahan terlalu dalam usai mencetak gol cepat hingga akhirnya kebobolan lewat penalti. Jika skenario serupa terulang, OGC Nice memiliki celah untuk mengejar ketertinggalan melalui umpan silang Clauss maupun sepak pojok.
Sebaliknya, bila OGC Nice yang unggul lebih dulu, Stade Brestois 29 harus menaikkan intensitas serangan. Situasi ini membuka ruang bagi OGC Nice untuk melancarkan serangan cepat usai merebut bola, persis seperti saat menundukkan Lille dan Strasbourg. Wahi dan Amoura dapat mengeksploitasi celah di belakang Tousart. Kendati demikian, Stade Brestois 29 juga piawai meningkatkan pressing dan memaksa situasi bola mati saat tertinggal. Terbatasnya opsi bek tengah pengganti di kubu OGC Nice mengharuskan lini belakang mereka meladeni duel bola atas kontra Ajorque hingga menit-menit akhir laga. Siapa pun yang membuka keunggulan, pendekatan taktik setelah gol tersebut akan menentukan arah terciptanya peluang berikutnya.
3. Keputusan Akhir dan Kesimpulan
Skenario Stade Brestois 29 memimpin lebih dulu sebelum OGC Nice menyamakan kedudukan di babak kedua tampak lebih masuk akal. Stade Brestois 29 dapat merespons pressing OGC Nice melalui kiriman bola panjang ke arah Ajorque serta eksekusi sepak pojok, sementara Doumbia dan Mboup bisa menyambut bola pantul untuk melanjutkan serangan. Begitu OGC Nice tertinggal dan memegang penguasaan bola lebih lama, tempo serangan mereka berisiko melambat seperti pada laga-laga tandang sebelumnya. Meski demikian, jika Stade Brestois 29 merapatkan jarak antar lini pertahanan usai memimpin, Clauss dan Hein berpotensi menghadirkan gol penyeimbang dari sisi kanan lewat umpan silang dan sepak pojok. Penyesuaian garis pressing oleh Pantaloni di babak kedua, seperti yang diperagakan kontra Lyon, juga bisa memengaruhi jalannya paruh kedua. Mengingat laga melawan Lyon diwarnai kartu merah lawan, kami tidak berasumsi gelombang tekanan Nice akan sebesar pertandingan tersebut.
Pasaran sedikit mengunggulkan Stade Brestois 29 dengan menimbang faktor laga kandang, koleksi 13 gol serta kemenangan telak atas Angers, berbanding catatan 3 kekalahan tandang OGC Nice. Sudut pandang yang kami nilai berbeda dari penilaian pasar adalah cara Stade Brestois 29 mempertahankan keunggulan. Saat bertandang ke markas Auxerre dan Lille, mereka kehilangan poin akibat gelombang serangan lawan di babak kedua, dan OGC Nice memiliki modal serangan sayap kanan serta situasi bola mati untuk mengeksploitasi momen tersebut. Di sisi lain, jika OGC Nice hanya mendominasi penguasaan bola sepanjang laga tanpa tusukan tajam, dasar untuk membalikkan keadaan menjadi kemenangan dinilai belum cukup kuat.
Prediksi skor adalah Stade Brestois 29 1-1 OGC Nice. Alur yang paling mungkin terjadi adalah Stade Brestois 29 unggul di babak pertama lewat bola mati atau kerja sama yang dipantulkan Ajorque, lalu OGC Nice membalas di babak kedua lewat serangan dari sisi kanan. Prediksi ini berpijak pada asumsi Stade Brestois 29 bakal menurunkan garis pertahanan usai unggul. Jika Lachuer memilih terus menekan seperti saat melibas Angers di kandang dan OGC Nice menaikkan garis pertahanan untuk mengejar ketertinggalan, laga bisa berkembang ke arah lain dengan lini kedua Brest memanfaatkan bola pantulan Ajorque untuk memperlebar keunggulan.