Swansea menguasai bola dalam dua laga liga terakhir mereka, tetapi hasilnya kontras: menang 4–0 di satu laga dan kalah 0–5 di laga lainnya. Perbedaannya terlihat setelah mereka maju menyerang. Melawan Blackburn, Swansea terus bisa masuk ke kotak penalti, sementara QPR mendapat peluang berbahaya setiap kali Swansea kehilangan kendali. Laga-laga Portsmouth belakangan menunjukkan mereka bisa membuat lawan bekerja keras untuk mendapatkan tembakan, tetapi pertanyaan besarnya adalah bagaimana mereka membangun serangan dari belakang. Tim mana yang lebih dulu bisa melancarkan serangan balik kedua dengan rapi setelah merebut bola?
Catatan pertandingan kami menunjukkan Swansea menguasai 67% bola, melepaskan 20 tembakan, dengan 13 di antaranya dari dalam kotak penalti saat melawan Blackburn. Di markas QPR, penguasaan bola mereka mencapai 60%, tetapi hanya menghasilkan delapan tembakan, lima dari dalam kotak penalti. Sementara itu, QPR melepaskan sembilan dari total 12 tembakannya dari dalam kotak. Portsmouth membuat Burnley gagal mencetak gol, meski mereka sendiri hanya mencatat satu tembakan dari dalam kotak penalti; kemenangan atas Millwall mereka raih lewat tujuh tembakan. Lini depan Swansea yang sudah dipastikan diisi Opoku dan Idah, sedangkan Portsmouth menurunkan Milovanović dengan Bishop tercatat absen. Ruang di belakang lini tengah Portsmouth dan cara Swansea melindungi diri setelah kehilangan bola adalah dua situasi yang akan kami cermati.