Singapura dan Adelaide kembali bertemu setelah laga pertama ditentukan oleh perebutan bola di lini tengah, opsi serangan dari sayap, dan bola kedua yang berbahaya dari sepak pojok. Adelaide menguasai bola, tetapi Singapura lebih sering menemukan jalan ke kotak penalti. Kuching dan Gangwon menghadirkan versi berbeda dari pertarungan serupa: umpan pertama saat ditekan dan siapa yang lebih dulu menyambar bola lepas berikutnya. Gangwon menciptakan peluang awal yang lebih bersih pada pertemuan pertama, sementara Kuching lebih sering masuk ke kotak penalti saat bermain di kandang.
Bagi Singapura, umpan Haag dan pergerakan Phaëton memberi Jackson lebih dari satu cara untuk menembus pertahanan Adelaide. Gomes mencetak gol dari bola muntah hasil sepak pojok pada pertemuan pertama, lalu Phaëton mengirim Thy dalam serangan balik. Adelaide bisa membangun serangan lewat Kitto, Muñiz, dan Anselmo, tetapi Goodwin, yang mengirim umpan untuk peluang Burkitt yang ditepis dalam laga tersebut, absen pada lawatan kali ini. Pemain Adelaide lain yang tercatat absen juga sudah tidak bermain saat itu. Kami memperkirakan perebutan bola di lini tengah dan umpan silang berulang Singapura akan membuka peluang penentu, jadi kami memilih Singapura menang.
Kombinasi Kang dan Choi menghasilkan gol Gangwon pada pertemuan pertama, dan pressing mereka bisa kembali memaksa Kuching bertahan dalam. Namun, perubahan di lini serang Gangwon tak mampu mengubah tembakan-tembakan lainnya menjadi gol tambahan, sementara sundulan Okwuosa memaksa kiper melakukan penyelamatan. Di kandang, pergerakan Shitembi ke kotak penalti dan kerja Saifullah dalam perebutan bola kedua memberi Kuching jalan untuk kembali menyerang. Lima pemain Kuching yang disebut absen juga tidak bermain pada pertemuan pertama, sementara Safawi dan João tampil sebagai pemain pengganti. Kami memilih Kuching City untuk menjaga laga tetap ketat.